20 Mei 2014

Anak Panah (Part 01)

Hari ini memang tidak cerah, langit bergemuruh walau tak jatuh air setetes-pun. Tapi, bagi beberapa orang, apapun tak boleh ada yang mengagalkan rencananya, bahkan cuaca. Seperti, Maurice Differ. Wanita muda ini menganggap bahwa di hidupnya yang tidak pernah ada yang ia kejar, ia hanya perlu mengikuti setiap kejadian yang terjadi di hidupnya, di iringi dengan rencana-rencana kecil yang paten, yang akan membawanya ke rencana lain. Dan begitulah hidupnya mengalir.

Maka, rencana kecilnya dua minggu ini, meski tidak di sukainya adalah menuruti titah atasan, teman, dan keluarganya untuk berlibur dari hiruk-pikuk kota sebelum ia jadi gila. Berlibur, benar-benar berlibur, tidak boleh secara sembunyi-sembunyi membuka kelas musim panas atau les fisika. Untuk itu, semua orang setuju untuk mengirimnya ke tempat yang ia kenal tapi ia tidak kenal. Yaitu, tempat dimana banyak teman untuk bicara, tapi tak ada yang ia ketahui tentang tempat itu. Mungkin kedengarannya baik. Tapi, manusia tidak pernah tau yang terbaik, tidak kecuali orang tua mereka. Mereka justru menanamkan bibit-bibit pemikiran untuk Differ, agar ia berlibur ke tempat yang dua puluh tahun lalu, ayahnya mencoba membebaskannya dari sana. Kampung halaman.

Tiga puluh tahun lalu, Differ di lahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Mr. Differ dan istrinya. Tiga belas tahun kemudian, ayahnya mengirim ia dan kakaknya dari tempat paling barat di negara ini menuju tempat paling timur. Sebuah tempat di mana ia akan punya teman yang baik. Mereka bersekolah di asrama. Sendirian, dalam arti tanpa orang tua.

Tapi, semoga saja. Masyarakat Slagy Lac sudah berubah. Walau kenyataannya, disini waktu bahkan terasa berhenti.

***

Langit cerah, udara segar, memang suatu ciri khas dari desa terpencil. Slagy Lac bahkan terbebas dari masalah internal negara. Mereka seperti punya negara sendiri, adat sendiri, bahkan dunia sendiri.

Hari pertama liburan, ia habiskan untuk tidur, walau itu berarti hanya beberapa jam saja. Ayolah, menempuh perjalanan sejauh 140,94 km bahkan dengan pesawat, bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Hari kedua, Theodore Halle sepupunya mengajaknya berkeliling desa. Tapi tentu saja, 'objek wisata' pertama tidak lain adalah Klub Panahannya. Klub panahannya tidak terlalu spesial, meski pernah jadi spesial. Merupakan Klub paling tua di desa ini, yang berarti wajar jika paling dulu mati. Klub Panahan Slagy Lac, hanya tinggal 6 orang saja, dimana 4 diantaranya wanita dan 2 lainnya pria. Terdengar aneh, dan memang begitu. Pertama mereka memasuki suatu rumah kecil di samping lapangan.

Begitu masuk mereka langsung di sambut dengan pemandangan yang menyilaukan mata. Di ke empat dinding sejak ketinggian 1 meter berbagai benda di pajang. Anak panah, busur, piagam, mendali, foto-foto dan lain-lain, kecuali setumpuk Piala yang di pajang dalam sebuah lemari kaca raksasa.

Ada satu yang begitu menarik perhatian. Sebuah anak panah yang tinggal di sebuah kotak kaca sendirian dengan bantalan merah di belakangnya. Jika teliti, kita akan melihat bahwa di kayu panah itu terdapat ukiran yang bertuliskan 'keberuntungan' . Hmm, tidakkah itu akan mempengaruhi keseimbangan anak panahnya? Ia harus menanyakan hal ini pada Theo suatu hari nanti.

Theo terlihat mengambil beberapa anak panah yang ada di dalam peti, lalu memasukkannya ke dalam tas punggung. Setelah itu ia mengambil salah satu busur yang tergantung di dinding. Kemudian, mereka segera menuju lapangan di samping rumah kecil itu

Sisi utara lapangan terdapat baja yang di lapisi spons berwarna putih, masing-masing setebal 10 cm. Dan semua orang hanya boleh memanah ke arah utara. Sedang, sisi timur, barat dan selatan hanya di batasi semak-semak.

Terdapat kursi panjang di bagian selatan lapangan. Disana duduk seorang wanita dengan rambut panjang hitam legam yang di kuncir kuda, ia memiliki wajah asing, sepertinya orang Asia. Di sampingnya terdapat, pria tinggi kurus dengan wajah kaku, melihatnya saja Differ sudah tidak menyukainya.

Di tengah lapangan, tiga wanita sedang berlatih, dengan sasaran masing-masing. Yang paling kanan, memiliki rambut bergelombang dengan wajah anggun, kelihatannya sangat mahir, melihat semua anak panah tertancap di tengah sasaran. Lalu, jelas sekali dari sorot matanya merupakan wanita yang sangat energik dengan rambut keriting merah, meski begitu, dilihat dari sasaranya ia tidak sehebat wanita yang sebelumnya. Sedang yang paling kiri, mempunyai wajah sendu yang cantik, nampaknya baru mulai, dan belum menembakkan satu anak panah-pun.

Theo yang baik, menyuruh Miss Differ untuk duduk di kursi panjang. Sedang dia menghampiri wanita berambut keriting merah dan sepertinya mengajaknya bertukar tempat. Wanita itu menghampiri Differ dan minum air dari sebuah botol di dalam tas yang berada di samping kursi.

"Anda pasti Miss Differ" katanya "saya Flora, panggil saja Flo" dia menjulurkan tangannya.

"Salam kenal," jawab Differ, sambil menyambut tangannya

"Anda sudah berkenalan dengan Miss Hana?" Tanya Flo

"Miss Hana, ini Miss Differ. Miss Differ ini Miss Hana" Flo mengenalkan Differ pada wanita berwajah Asia itu

"Nah, ini Mr. Brood" Flo menunjuk pria kurus tinggi tadi.

"Edison Brood" Pria itu menyalami Differ. Differ hampir terloncat kaget, pasalnya suara pria itu sama sekali tak cocok dengan postur tubuhnya. Ia mempunyai suara berat yang seakan berasal dari langit-langit.

"Maurice Differ" Differ mencoba menghilangkan kegugupannya dengan bersuara datar

"Nah, Miss Differ, anda lihat wanita di ujung kanan sana?" Flo menunjuk wanita anggun
"Itu, Renata Coney"

Differ mengangguk, mendengarkan pemandu wisata kedua-nya setelah Theo. Flo ini, sama cerewetnya dengan Theo.

"Dan yang itu, adalah Emilia Dye. Jangan dekat-dekat dengannya jika ia sedang berlatih" katanya lagi. Setelah diam satu dua detik, Flo kemudian bicara lagi. "Hari ini sangat panas, aku akan ke pondok untuk mengambil beberapa gelas jus"

Kemudian mereka semua terdiam, menonton orang-orang yang sedang berlatih, Wanita anggun bernama Renata Coney itu masih dengan kemahirannya, tak pernah meleset dari sasaran. Sementara wanita berwajah sendu alias Emilia Dye, masih ragu-ragu menembakkan anak panahnya. Karena bosan, Differ mengabaikan peringatan Flo, dan menghampiri Emily. Emily kini mengangkat tangannya bersiap membidik dan tidak mempedulikan Differ yang ada di sampingnya. Differ berjalan ke utara, iseng menghitung jarak antara Emily dan sasaran dengan langkahnya.

Terdengar jeritan wanita dari berbagai arah

Para pria, meneriakinya agar menghindar

Maurice Differ refleks berjongkok sambil menutup telinga

Sebuah anak panah melesat di atas kepalanya dan langsung tertancap ke spons putih di utara lapangan

Anak panah tadi, hampir menembus tubuh Differ.

Semua orang menghampirinya, membantunya berdiri, dan memastikan dia tidak pingsan.

"Maaf, Maaf, saya sungguh tidak sengaja" ucap Emily, tentu saja, mana mungkin dia sengaja.

Differ kaget, sampai tak bisa bicara. Theo memutuskan membawanya pulang. Ia tau persis, Differ tak suka di pandangi, apalagi dengan tatapan merasa bersalah.

***

"Kau akan pergi?" Tanya seorang pria pada kawannya

"Ya, harus. Adikku yang nakal itu sungguh tidak tau diri, ayahnya meninggal, tapi dia tidak datang ke pemakaman. Minggu ini, pengacara keluarga kami akan membicarakan warisan. Tapi, tentu saja ia tak akan datang, maka kami yang akan menghampirinya"

"Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?"

"Hampir 5 tahun, atau lebih. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya"

"Dia tinggal sendiri? siapa adikmu itu?"

"Eddy. Tidak benar-benar sendiri kurasa. Aku kenal beberapa temannya disana. Emily, Rene, Theo, dan seseorang wanita berambut merah"

"Wah, dia di kelilingi wanita?"

"Ya, wanita-wanita cantik"

"Wah, sudah larut, aku rasa aku harus pulang sekarang. Archie, kau akan datang ke Klub besok kan?"

"Hei, atlet terkenal ini mana mungkin absen"

"Dasar, ya sudah sampai jumpa. Aku akan bayar tagihannya"

"Ya! Terimakasih!"

Pria itu keluar dari kafe kecil sudut kota itu. Archie meneguk kopinya lagi, dan bergumam sendiri
"Minggu ini, aku akan kaya" lalu tersenyum.

*****

Kemarin, sungguh bukan salam perkenalan yang menyenangkan bagi Differ. Setidaknya lebih buruk dari pada ketika seseorang menghilangkan pulpen pertamanya di perpustakaan sewaktu ia kelas tujuh. Hari ini, sebagai permintaan maaf. Emily bersama dengan Hana mengajaknya pergi berkeliling desa.

"Anda tidak memakai mantel Miss Dye?" Tanya Differ

"Apa harus?" Emily melihat ke langit

"Tak apa Miss Differ, dia memang begitu" jawab Hana

"Kemana kita sekarang?" Tanya Differ lagi

"Anda mungkin mau melihat proses perluasan Klub menembak Miss Differ?"

"Aku mengikuti langkah kaki kalian" jawabnya.

Maka, mereka melihat pembangunan lapangan tembak. Stadion tepatnya, stadion itu terletak di samping hutan, perluasannya tentu akan membabat hutan. Banyak orang di sana, aneh, aneh sekali. Apa yang menarik dari pembabatan hutan dan beberapa pekerja yang memasang bata. Tapi, disana ada beberapa atlet tembak ternama, yang mencoba lapangan yang konon akan menjadi yang terbaik di seluruh negeri.

Differ bertemu banyak orang, Emily dan Hana mengenalkannya, tapi ia tidak bisa menghafal semuanya. Umumnya orang-orang tua yang ternyata dulu merupakan anggota Klub panahan juga.

Seseorang menghampiri mereka, ia bukan atlet tembak atau pun panahan.

"Hei! Maurice!" Ucapnya. Differ mengerutkan kening. Siapa dia?

"Maaf apa saya mengenal anda?"

"Kau tidak ingat aku? Aneh sekali, padahal dulu ingatanmu kuat" katanya lagi.

Differ menyelidiki wajahnya lagi, ia ingat sesuatu tentang musim semi. "Spring?"

"Sprig, Inspektur" ia mengenalkan dirinya

"Oh, dan apa yang kau lakukan disini?"

"Liburan musim panas" jawabnya.

"Miss Differ, ayo pergi ke bendungan, Mr. Grake mendapat ikan besar!!" Hana menarik tangan Differ.

"Oh ya, sampai jumpa Sprig" ia melambaikan tangan selagi bisa.

***

Kini mereka berdiri di atas jembatan. Melihat orang-orang yang sedang memancing di bawah.

"Anda bukan orang sini kan Miss Hana?" Tanya Differ

"Saya lahir dan besar disini Miss Differ, tapi ayah saya memang orang Asia. Ikut Klub panahan-pun memang sejak kecil. Dan sekarang saya menggantungkan penghasilan dari menjadi atlet panahan profesional" Jawabnya sambil menambahkan informasi yang tidak ditanyakannya

"Bagaimana dengan anda Miss Dye?" tanyanya pada Emily

"Saya dari luar kota, Miss Differ, dan sebenarnya saya ini saudari angkat Rene. Dan ikut dengannya ke sini beberapa tahun lalu, tapi saya baru bergabung dengan Klub memanah sekitar dua bulan lalu. Saya sendiri bekerja sebagai artis teather di kota sebelah" Jawabnya, mengikuti format jawaban Hana

"Begitu" Katanya sambil memejamkan matanya, entah mengapa ia merasa sedih, sangat sedih.

***

Archie sudah sampai di desa ini, ia bersama pengacara ayahnya. Ia menghirup udara desa yang segar dan merasa sangat bahagia.

"Keadaan tidak akan lebih baik lagi" katanya

Archibald Brood adalah satu-satunya saudara kandung Edison Brood. Mereka tinggal terpisah setelah ayah mereka mengutus Eddy untuk menjaga rumah nenek moyang mereka di desa ini. Archie merupakan salah satu atlet tembak ternama, meski begitu tak banyak orang tau mengenai kehidupan pribadinya. Ia dulu pernah satu sekolah dengan Rene dan Emily.

***

Hari ini, Differ mengirim surat pada sahabatnya di kota. Awalnya ia ingin menggunakan media yang lebih modern, tapi bibi Halle bilang, kartu pos lebih baik jika ingin menceritakan pengalaman di suatu tempat wisata (?). Karena si penerima akan menyimpan kartu pos itu dan suatu hari akan datang kemari. Baiklah, itu cukup masuk akal.
Padahal yang di ceritakan Differ adalah hal-hal buruk yang baru di alaminya di sini, dan mungkin setelah membacanya, Ashley tidak akan mau menginjakkan kakinya di sini

***

"Kalian tentu mengerti, sebagaimana yang tertulis di sini maka dapat disimpulkan bahwa ... " Pengacara itu menghentikan kalimatnya, untuk membetulkan kacamatanya, menelan ludah dan hendak berbicara lagi, Tapi Eddy menghentikannya

"65% kekayaan ayah untuk Archie, sementara aku 35%?"

"Sebenarnya, 65% untuk Archie, dan sisanya anda, sanak saudara yang lain, juga beberapa badan amal" pengacara itu menelan ludahnya lagi. Untuk pembagian warisan yang tidak adil seperti ini, mengherankan Eddy bersikap cukup tenang.

"Tak apa Eddy, aku tetap kakakmu. Kau selalu bisa meminta bantuanku" ujar Archie.

Untuk si pengacara, itu adalah kalimat paling dermawan yang pernah didengarnya, dan membuatnya tenang. Bagi Eddy yang kenal betul kakaknya, itu adalah penghinaan.

Malam itu, Eddy mengundang teman-temannya (termasuk Differ) untuk makan malam demi menyambut Archie. (Hubungan kakak-adik ini memang aneh)

Makan malam itu terasa ramai, semua orang bercerita, berbicara dan menjadi secerewet Flo dan Theo. Namun, Archie yang bahagia sering kali mengeluarkan kalimat pedas yang membuat suasana tidak nyaman beberapa kali.

Semua orang pulang, Archie memberikan sebuah surat pada Rene. Yang nantinya akan membuatnya sangat bahagia

"Apa isinya?" Tanya semua orang di jalan pulang.

"A.. Aku akan menjadi Mrs. Brood?" katanya, dan semua orang tau apa artinya

"Kau dilamar Archie?" Tanya Flo

"Sesuatu yang bahkan lebih baik dari itu!" Katanya

"Ya ampun! Apalagi yang lebih baik dari itu?!" Hana bersorak kegirangan

"Selamat Rene" Suara Emily bergetar.

***

Pagi ini, sesuai dengan yang telah di janjikan. Mereka semua kecuali Differ, akan pergi berburu ke hutan.

Semuanya sudah masuk hutan, kecuali Archie dan Rene. Archie bilang ia ingin memberikan Rene sebuah pertunjukan menembak, tapi semua orang tau bahwa ada yang ingin dibicarakannya.

Semua orang benar-benar masuk hutan. Kecuali satu. Karena 20 menit kemudian. Terdengar jeritan Rene. Dan sebuah anak panah menembus rompi anti peluru Archie.

Archie tewas seketika.

Bersambung~

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^